Rabu, 25 April 2012

Kontrasepsi dan remaja

Pengetahuan remaja tentang kontrasepsi
Apa yang terlintas di pikiran teman-teman ketika mendengar kata kontrasepsi??? Pasti nya KB atau keluarga berencana kan?? Emang gak salah juga sih,, tapi ya gak Cuma itu juga. Gak ada salahnya teman-teman memperluas pandangan dan pengetahuan tentang masalah kontrasepsi ini. Nah di artikel berikut ini kita simak yuk pendapat teman-teman siswa SMA dan mahasiswa tentang masalah kontrasepsi ini.


Seperti juga teman-teman hampir kebanyakan remaja juga menjawab KB ketika ditanya mengenai alat kontrasepsi. Namun ketika ditanya lebih jauh apa itu arti kontrasepsi jawabannya beragam.

“ alat untuk mencegah kehamilan”

Pada umumnya remaja mengetahui salah satu fungsi dari alat kontrasepsi ini. Namun persepsi ini menjadikanya tabu untuk dibicarakan oleh remaja dan seakan jauh dari urusan remaja. Remaja seakan takut diberikan embel-embel anak “nakal” jika menanyakan masalah kehamilan atau kontrasepsi kepada guru atau orang tua.

“alat untuk mengurangi jumlah penduduk”

Namun tidak bisa dipungkiri persepsi mengenai fungsi KB sebagai alat untuk mengurangi jumlah penduduk juga masih ada hingga saat ini. Padahal tujuan sebenarnya adalah bukan untuk mengurangi jumlah penduduk tetapi hakikatnya dengan mengatur dan merencanakan kehamilan diharapkan lahir generasi yang berkualitas.

Pendapat remaja tentang kontrasepsi

Hampir semua remaja menyetujui adanya pemberian informasi mengenai kontrasepsi kepada remaja. Remaja berpendapat bahwa dengan adanya informasi mengenai kontrasepsi maka nantinya remaja akan memiliki bekal pengetahuan untuk memasuki jenjang pernikahan. Persepsi ini lebih menekankan pada masa depan dimana pengetahuan mengenai kontrasepsi ini hanya berguna dan akan digunakan hanya pada saat mereka menikah kelak. Lalu ketika ditanya “bagaimana jika remaja diperbolehkan untuk mengakses kontrasepsi?”

“remaja belum waktunya menggunakan kontrasepsi”

 alasan remaja berpendapat demikian bermacam-macam, diantaranya karena masih ada anggapan bahwa kontrasepsi hanya diperuntukan bagi mereka yang sudah menikah. Selain itu banyak anggapan bahwa menggunakan alat kontrasepsi pada saat remaja atau sebelum memiliki anak akan berdampak buruk bagi kesehatan remaja itu sendiri, dapat menimbulkan kemandulan misalnya.

Alasan inilah yang kemudian menutup remaja untuk mengakses informasi mengenai kontrasepsi ini. Pada kenyataanya terjadi banyak kasus kehamilan tidak diinginkan. Salah satu penyebabnya bisa jadi karena kurangnya pengetahuan remaja mengenai kontrasepsi ini.

“membiarkan remaja mengakses alat kontrasepsi sama saja dengan melegalkan seks bebas”

Kebanyakan remaja tidak menyutujui remaja mengakses kontrasepsi dengan alasan menyalahi norma agama dan susila, remaja beranggapan dengan membiarkan remaja menggunakan kontrasepsi maka dengan itu “mengizinkan” seks pranikah pada remaja. Pada umumnya remaja lebih menyetujui berpantang untuk berhubungan seks sebelum menikah (abstinence) dan lebih menekankan pada pendidikan agama untuk mencegah prilaku seks pranikah dan kehamilan tidak diinginkan.

Data yang masuk ke line sms konseling Mitra Citra Remaja selama Januari-November 2011 terdapat 35 kasus remaja telah melakukan hubungan seksual pranikah. Data ini hanya sedikit yang terungkap dari jumlah yang sebenarnya. Dapat dipastikan perilaku ini dapat mengarah pada peningkatan kasus kehamilan tidak diinginkan. Lalu pertanyaannya,kenapa Abstinensia kurang efektif?

Di satu sisi remaja telah mencapai kematangan seksual tetapi di sisi lain remaja dihadapkan pada norma masyarakat dimana hubungan seksual sebelum menikah diharamkan sementara gempuran informasi dari berbagai sumber dewasa ini makin gencar membangkitkan dorongan seksual mereka.

Sumber: FGD SMK Nugraha dan FGD Fakultas Psikologi UPI

Tidak ada komentar: